Kami
berhamburan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. Aku lari ke arah Hutan
Buas. Aku diam sejenak di antara lebat belukar dan kelakar pepohonan di sana.
Aku sendiri di sini, itu masalahnya, terlebih aku tidak tahu di mana tepatnya
aku berada sekarang. Tiba-tiba sebuah tembakan dari sebuah launcher mengenai
pepohonan di sisiku. Sial, aku masih di kejar. Yang ada dipikiranku saat ini
hanya 'jangan sampai tertangkap dan tetap
bertahan hidup, apapun caranya'.
“Tolong aku!! Aku sedang dikejar
oleh Accretia di daerah Hutan Buas"
“Ada berapa Accretia yang
mengejarmu?"
“Sekitar empat buah.
Cepatlaaaahhh!!! Aku belum bisa melawan merekaaa!!!" aku hampir saja
berteriak pada operator Markas.
“Vale, kau di mana?" tanya
Viren.
“Empat buah Besi Bernyawa itu
mengejarku. Menembakiku dengan membabi butaaaaa!!! Aaaarrrgggghhh!!!" dan
tembakan yang terakhir meleset namun tepat membakar tangan kananku. Sial. Aku
lebih memilih tanganku digigit oleh Villain Cannibal daripada tertembak seperti
ini.
“Kau baik-baik saja, Vale?"

