Saturday, December 29, 2012

[Rising Force] The Beginning to The New World part XIV


            
            Kami berhamburan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. Aku lari ke arah Hutan Buas. Aku diam sejenak di antara lebat belukar dan kelakar pepohonan di sana. Aku sendiri di sini, itu masalahnya, terlebih aku tidak tahu di mana tepatnya aku berada sekarang. Tiba-tiba sebuah tembakan dari sebuah launcher mengenai pepohonan di sisiku. Sial, aku masih di kejar. Yang ada dipikiranku saat ini hanya 'jangan sampai tertangkap dan tetap bertahan hidup, apapun caranya'.
            “Tolong aku!! Aku sedang dikejar oleh Accretia di daerah Hutan Buas"
            “Ada berapa Accretia yang mengejarmu?"
            “Sekitar empat buah. Cepatlaaaahhh!!! Aku belum bisa melawan merekaaa!!!" aku hampir saja berteriak pada operator Markas.
            “Vale, kau di mana?" tanya Viren.
            “Empat buah Besi Bernyawa itu mengejarku. Menembakiku dengan membabi butaaaaa!!! Aaaarrrgggghhh!!!" dan tembakan yang terakhir meleset namun tepat membakar tangan kananku. Sial. Aku lebih memilih tanganku digigit oleh Villain Cannibal daripada tertembak seperti ini.
            “Kau baik-baik saja, Vale?"

Friday, December 28, 2012

[Rising Force] The Beginning to The New World part XIII


Tiba-tiba panggilan private masuk ke MC-ku. Itu Neo.
"Valerie, dimana kau sekarang?
"Di bilikku. Kenapa?"
"Aku butuh bantuanmu untuk menyelesaikan sebuah quest"
"Aku? Kau serius, Neo?"
"Ayolah, Vale. Kau pasti akan dapat bagiannya nanti. Kita harus segera menyelesaikannya."
"Aish...memang quest apa yang kau dapat?”
"Kau segera datang ke portal, aku, Viren dan Homoco menunggu. Cepat, Valerie. Kita sedang dikejar deadline
Aku segera bergegas ke tempat yang Neo maksud. Aku melihat ia di sana bersama teman-teman seangkatannya; Viren dan Homoco.
“Memang quest seperti apa yang kau ambil?”
“Lima puluh hati Red Haired Splinter, Vale. Deadline-nya tiga hari lagi” tukas Viren. Aku terbelalak melihat ke arah Viren lalu melemparkan pandangan ke Neo. Neo bodoh mengajakku pergi ke sarang Red Haired Splinter.
“Oh sial. Neo, apa kau benar-benar yakin aku yang akan kau ajak? Bahkan aku belum mampu mengalahkan seekor Assasin Builder A”
“Hm…aku rasa aku tidak punya pilihan lain. Kalau aku punya pilihan lain yang lebih baik darimu, jelas aku akan langsung mencoret namamu dari daftar pilihan”
“Ew…itu terdengar jahat sekali, Neo” Homoco menimpali. Tapi tatapannya mengejek padaku. Aku memicingkan mata ke arahnya.
“Heh, apa maksudmu?” aku menunjuk wajah Neo.
“Sudah…sudah…yang jelas saat ini yang kita punya hanya Valerie, Neo. Kita butuh disena, dan sebaiknya kita cepat. Tiga hari lagi dan perjalanan menuju daratan Outcast itu butuh waktu minimal tiga hari lamanya, ingat itu” Viren menepuk pundak Neo,” Valerie, nanti di sana jangan pergi jauh-jauh dari kami bertiga atau kau mati muda” aku sedikit bergidik mendengar kata-kata terakhir Viren. Itu bukan pilihan yang bagus sama sekali.