Apa kabarmu di sana?
Lantas, sudah sampai mana pencapaian hidup yang kau punya di alam sana?
Aku? Aku sudah mendewasa bersama waktu. Dan aku baik-baik saja, karenamu.
Sudah sampai mana pencapaian hidup yang kau punya?
Ada rindu-rindu yang tak juga reda dan ingatan-ingatan yang
kian menua. Nostalgia terjadi di sana. Di sebuah kepala dengan ingatan
tentangmu di dalamnya. Fragmen mimpi kadang jadi biang keladi. Atau sesekali
kejadian yang terulang lagi sama persis dengan yang dulu kita lalui. Siapa yang
tak terlena dengan kenangan masa lalu? Sakit dan luka-luka yang dirasa sering kita
bina. Kita rasa-rasa. Sampai kita lupa itu semua untuk apa.
Iya, aku senang mengingatmu. Bahkan setiap inderaku punya ingatan tentangmu. Aku masih bisa merasakan hangat tanganmu di jemariku.
Iya, aku senang mengingatmu. Bahkan setiap inderaku punya ingatan tentangmu. Aku masih bisa merasakan hangat tanganmu di jemariku.
Menurutku yang paling pahit dari hidup ini adalah kenyataan.
Kenyataan bahwa hidup bisa terbagi-bagi. Terbagi ruang dan waktu, seperti kita
ini. Aku di sini dan kau di sana, entah di sisi mana semesta ini. Aku selalu
ingin mengulang waktu yang sudah tidak eksis saat ini lagi. Mengulang ke saat di mana ada kau masih di sini. Di
sampingku. Berbagi rasa dan mimpi yang sama seperti yang dulu kita punya.
Melebur semua luka-luka hari ini untuk menjadi kekuatan di hari esoknya. Karena
siapa lagi aku bisa begitu kalau bukan karenamu?
Dalam hidup ini aku mungkin seorang petualang mimpi yang
kehilangan arah. Yang sesekali menyombongkan diri untuk menutupi kenyataan
bahwa dirinya lemah. Yang ingin pergi jauh sampai lupa kalau ia punya sebuah
rumah, untuk kembali dan mengistirahatkan sisa mimpi yang mungkin belum sampai
di tujuannya, atau tak sesempurna yang ia kira. Seperti itulah aku
menghancurkan satu persatu mimpiku. Aku selalu memaksakan diri untuk bisa
mewujudkan semuanya, semua yang aku anggap berharga. Tapi aku sering lupa,
kalau aku manusia. Yang tak harus sempurna untuk mewujudkan semuanya. Dan aku
sering lupa pula untuk meminta padaNya. Meminta bantuanNya. Aku ingin bisa
lebih mahir lagi mengubah perasaan-perasaan itu ke dalam kata. Segala suka
campur duka, atau bahagia campur luka. Tapi lantas kau selalu datang menjadi
Bintang Utaraku dan berkata, “Kau tak perlu sempurna untuk melakukan semuanya. Cukup
jadi dirimu saja. Tak ada yang perlu kau khawatirkan jika gagal. Tak ada..semua
akan baik-baik saja. Dan kau akan jadi seperti dirimu yang biasanya, seperti
dirimu sedia kala.”
Kehadiranmu itu selalu terasa meski nyatanya kau tak ada dan
menarikku dari penyesalan yang sia-sia. Aku mungkin bisa menerimanya sekarang.
Meski seringkali ingatan-ingatan itu memanggil dan membuatku bernostalgia
dengan semua bahagia serta luka-luka yang dulu kita alami bersama. Tak ada yang
harus aku khawatirkan, seperti katamu.
Aku pikir aku ingin selamanya melindungimu yang seperti
Bintang Utara untukku. Menunjukkan cahaya yang nyatanya tak pernah padam. Meski
di waktu yang paling kelam sekalipun.
Aku selalu memeluk cahayamu dari sini. Dari tempat di mana
aku memulai mimpi. Dari tempat di mana kita menghabiskan banyak waktu untuk
dilalui.
Mungkin Tuhan membawaku padamu untuk jatuh cinta padamu yang
seperti cahaya; yang menegarkanku akan kenyataan dan menjanjikanku akan warna
warni kehidupan.
Lantas, sudah sampai mana pencapaian hidup yang kau punya di alam sana?
Aku? Aku sudah mendewasa bersama waktu. Dan aku baik-baik saja, karenamu.
Inspired Song by
Eir Aoi – Dear, Brightness
Requested by
Putri Asri Larasati
No comments:
Post a Comment